Minggu, 25 Mei 2008

jawaban dari pertanyaan edi pranoto

terimakasih atas pertanyaanya

sebagai seorang pemimpin yang mengerti arah-arah perubahan ke arah yang lebih baik lagi, dia akan tetap berpegang teguh untuk melakukan perubahan tersebut. meskipun, yang dipimpin tidak mau melakukan perubahan dan tetap pada paradigma mereka.
dalam kasus ini jika para bawahan tidak mau melakukan perubahan dan mereka mengundurkan diri karena tidak sepaham dengan pemimpin mereka itu adalah sebuah kesempatan untuk mendapatkan karyawan yang lebih baik lagi dan lebih kompeten (bukan berarti pemimpin bisa memecat karyawan seenaknya). karena pemimpin tersebut akan mendapat bawahan/karyawan yang mau melaksanakan perubahan itu. dan hal itu juga akan menghilangkan hambatan dalam melakukan perubahan karena pemimpin tersebut tidak harus mengubah paradigma lama dari karyawan untuk mau melakukan perubahan. sehingga akan tidak membuang waktu untuk melakukan perubahan paradigma.
dan pemimpin itu dapat menunjukan perubahan yang ia lakukan menuju kearah yang lebih baik lagi. sebagai contoh, Paul Otellini di Intel.ketika ia menjabat sebagai CEO Intel, ia juga banyak dicibir oleh bawahannya dan banyak bawahan yang mengundurkan diri. Tetapi setelah ia melakukan perubahan tersebut ia dapat menunjukan bahwa perubahan yang ia lakukan menuju kearah yang lebih baik lagi di Intel.

Jumat, 23 Mei 2008

kata-kata mutiara

Do all the goods you can, All the best you can, In all times you can, In all places you can, For all the creatures you can. - Anonim

Jenius
adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat
menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi
ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. - Thomas A. Edison

Niat adalah ukuran dalam menilai benarnya suatu perbuatan, oleh karenanya, ketika niatnya benar, maka perbuatan itu benar, dan jika niatnya buruk, maka perbuatan itu buruk.
Imam An Nawawi

Berusahalah untuk tidak menjadi manusia yang berhasil tapi berusahalah menjadi manusia yang berguna.
Einstein

Jumat, 16 Mei 2008

kepemimpinan Transformasi

TUGAS TERSTRUKTUR
MATA KULIAH PENGEMBANGAN ORGANISASI

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASI










Disusun Oleh :
AGUNG HARIAWAN FIB006042
ASTRY DEWANTY FIB006043
LUTFI FITTILAZARO FIB006044
DHINY PURWANDARI FIB006045
TONY ARDILLA YUGHI FIB006046
INDAH NOVIANTI FIB006047
EKI LISTIANI FIB006048
SUDARYANTO FIB006050
NUGROHO HASANUDIN L FIB006051



DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA
PURWOKERTO
2008


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Lumpuhnya organisasi-organisasi usaha dan pemerintahan di Indonesia pada umumnya mudah ditebak yaitu karena begitu banyak orang yang sudah merasa menjadi pemimpin dengan hanya mengantongi surat keputusan. Dalam situasi sulit, pemimpin bukanlah sekedar pemangku jabatan melainkan seseorang yang menimbulkan gerakan dengan kekuatan dan pengaruhnya. Dengan begitu senutan pemimpin dapat berubah menjadi motivator, coach, penerjemah, nabi, dai, guru, paus,dll. Sangat berbeda dengan sebutan-sebutan formal yang tertera pada surat keputusan pemangku jabatan yaitu presiden, direktur, dirjen, sekjen, menteri, kabag, kasi, kapolres, dll.
Pemimpin yang menjadi pemimpin karena surat keputusan sebenarnya bukanlah seorang pemimpin, ia hanyalah manajer biasa yang bekerja dengan sistem dan hanya menjaga sistem yang ada. Sedangkan pemimpin yang sebenarnya adalah seorang yang dapat melihat jauh ke depan, dapat menciptakan pembaharuan dengan pemikiran-pemikirannya yang kemudian dapat diterima dan diikuti oleh anak buahnya. Dia melakukan sebuah karya agung bukan sekedar karya baik. Dengan demikan jelaslah bahwa negeri ini membutuhkan seorang pemimpin dan bukan sekedar manajer. Manajer dapat diperoleh di sekolah-sekolah, sedangkan pemimpin di uji dalam pasar. Ia diuji oleh masyarakat, klien, perusahaan, dan sebagainya. Dan dia akan diterima oleh pasar karena nilai-nilai yang mereka miliki dan manfaat yang mereka berikan. Untuk mendukung perubahan-perubahan tersebut, orang-orang yang terpanggil harus berani keluar dari tradisi, dan me-Re-Code dirinya menjadi seorang pemimpin dan bukan hanya menjadi seorang manajer.
B. Perumusan Masalah
Langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan untuk me-Re-code diri seseorang agar menjadi seorang pemimpin yang sebenarnya ”bukan hanya menjadi seorang manajer yang berdasarkan surat keputusan”?



BAB II
PEMBAHASAN

Pemimpin merupakan pribadi yang mempunyai kecakapan khusus dengan atau tanpa pengangkatan resmi. Dia dapat mempengaruhi kelompok yang dipimpinnya untuk melakukan usaha bersama yang mengarah pada pencapaian sasaran tertentu. Seorang pemimpin tentunya bukan hanya sekedar pemangku jabatan, tetapi ia merupakan seorang yang dapat menimbulkan suatu gerakan dengan kekuatan pengaruhnya. Dalam kepemimpinan, kita mengenal sebutan kepemimpinan transformasi. Pemimpin transformasional mempunyai tujuan yang sama dengan pemimpin pada umumnya yaitu ingin melakukan sebuah perubahan dengan membuat para pengikut menjadi lebih menyadari kepentingan dan nilai dari pekerjaan. Serta dapat mempengaruhi pengikut untuk tidak mendahulukan kepentingan diri sendiri melainkan harus mengutamakan kepentingan organisasi. Dari pengaruh tersebut yang akan membuat pengikut merasa percaya dan hormat pada pemimpin sehingga mereka termotivasi untuk melakukan suatu hal yang lebih baik.
A. Level of Leadership
Sebelum membahas lebih jauh mengenai beberapa pemimpin transformasional dan pengaruhnya, perlu kita ketahui bahwa pemimpin sendiri pada umunya dapat dikategorikan ke dalam 5 level kepemimpinan yaitu sebagai berikut:
1. Level I (posisi)
Pada level ini sebenarnya belum dapat sepenuhnya disebut pemimpin karena dia hanya manajer biasa yang hanya bekerja berdasarkan sistem dan hanya menjaga sistem yang ada. Berbeda dengan pemimpin sesungguhnya yang dapat melihat jauh ke depan, dapat menciptakan pembaharuan dengan pemikiran-pemikirannya yang diikuti oleh anak buahnya. Serta dapat menciptakan suatu karya agung (greatness), bukan sekedar karya baik (being good). Orang-orang pada level ini kebanyakan hanya mementingkan jabatan dan memperebutkan jabatan serta menyerang orang lain yang akan menduduki jabatan itu.
2. Level II (permission)
Pemimpin pada level ini adalah pemimpin yang disegani yang bekerja sepenuh hati dan mencintai pekerjaanya. Dia sadar betul bahwa prestasi kerja hanya bisa dicapai dengan memimpin orang, tidak hanya memimpin kebijakan atau memimpin media massa demi mendapatkan popularitas dan pujian publik. Fondasi dari itu semua adalah kasih sayang atau cinta kasih tanpa memandang persamaan-persamaan dan perbedaan yang ada diantara anak buah.
3. Level III (production)
Pemimpin lebih berorientasi pada hasil (result-based) daripada prosedur (procedural-based). Pada era perang dingin (1950-1980an) segala sesuatu begitu stabil di negeri ini dan persaingan sangat dibatasi sehingga apapun gaya kepemimpinannya tidak akan ada perbedaan hasilnya. Setelah era ini berakhir, kita masuk ke era globalisasi yang mengedepankan persaingan dan pasar. Di era ini seorang pemimpin diukur dari score card-nya yaitu hasil yang ia capai. Apa yang mereka lakukan akan tercermin dari hasil yang dapat mereka berikan, demikian pula bagi bawahan dalam menilai pemimpinnya. Mereka tidak cukup dihargai karena jabatan dan kasih sayangnya saja, melainkan juga karena prestasi kerjanya. Itulah yang menyebabkan pemimpin-pemimpin ini sering dikagumi (admired).
4. Level IV (people development)
Pada level ini, pemimpin bukan hanya menjadikan bawahan sebagai pengikut melainkan menjadi coach bagi mereka untuk menjadi pemimpin sejati. Dalam level ini akan tercipta loyalitas dan anggota patuh bukan karena jabatan pemimpin melainkan atas apa yang telah pemimpan lakukan pada hidup mereka.
5. Level V (Personhood)
Dengan berada pada level IV, seorang tinggal selangkah lagi untuk menduduki level V. Jatidiri yang dibentuk oleh karakter yang kuat akan menentukan apakah seseorang layak mendapat sebutan istimewa seperti sang guru, suhu, atau pemimpin besar. Pada level V seseorang disegani karena semua orang respek padanya, mereka respek bukan hanya atas apa yang telah ia berikan (secara personal) atau manfaatnya melainkan karena nilai-nilai dan simbol-simbol yang melekat pada diri orang tersebut.
B. Re-Code menjadi Great Leader
Re-Code harus dilakukan oleh para individu dan didukung oleh organisasi. Greatness sendiri dibentuk melalui empat unsur, yaitu :
Visi (vision)
Seorang calon pemimpin harus mempunyai pandangan yang terbuka agar mampu melihat “dunia lain”. Pencerahan dibutuhkan agar calon pemimpin memiliki multi perspektif dalam melihat sesuatu. Melihat dari luar, dari kacamata pasar akan mendekatkan seseorang pada kenyataan.
Keberanian (courageness)
Seorang calon pemimpin harus bekerja dengan hati agar melaksanakan tugasnya dengan sepenuh hati dan penuh rasa tanggungjawab. Sehingga dalam organisasi ia mampu melakukan terobosan-terobosan baru dan berani mengambil resiko (risk taking) untuk melakukan perubahan.
Realitas
Dalam praktiknya, para pendukung perubahan yang memiliki kepemimpinan yang kuat, biasanya akan menghadapi rangkaian serangan dari kelompok yang tidak mau berubah. Yang mereka sebarkan adalah rumor / gosip yang sifatnya membunuh karakter calon pemimpin
Etika (ethics)
Pemeimpin disini adalah pemimpin yang humanis. Ia tidak akan melakukan apaun yang dianggap dapat merugikan orang lain, apakah itu bawahan, atasan, atau pemegang saham. Dalam hal tertentu ethnics berarti cost, dan bekerja lebih keras. Ia juga berarti mendahulukan orang lain yang artinya pengorbanan dan pelayanan.
C. Rasa Keterasingan
Dalam konsep Re-Code, orang yang membantah, menyangkal, atau beragumentasi adalah orang yang berbahaya. Mereka telah menjadi kurang tanggap dan kurang sensitif. Mereka telah menyatu dengan persoalan dan tidak bisa membedakan persoalan-persoalan baru dengan persoalan-persoalan lama. Hal-hal sederhana, tradisi, dan kebiasaan-kebiasaan seringkali menjelma menjadi belenggu. Itu sebabnya banyak organisasi yang akhirnya tak punya pemimpin, mereka hanya bekerja dengan tradisi.
Pemimpin harus didatangkan dari luar. Orang baru ini, datang dengan rasa keterasingan dan membawa angin perubahan. Komunikasi pada gelombang yang berbeda pun terjadi. Dan mereka saling bermusuhan, begitu mudah menjadi keributan dan datang pihak ketiga yang mengambil kesempatan dalam situasi yang tidak stabil itu.
D. Leader Style
Dalam Re Code, leadership style adalah sebuah seni untuk menggerakkan suatu perubahan. Dalam hal ini hendaklah kita berhati-hati dengan seruan-seruan yang sifatnya sektarian yang menonjolkan satu bentuk kepemimpinan yang berlaku universal. Pada umumnya ada dua cara memimpin yaitu happing dan controlling. Manajemen sebagai kontrol mengacu pada Tery Henry Fayol yang menekankan adanya hubungan yang erat antara perencanaan dengan pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengendalian (controlling). Sedangkan dalam manajemen sebagai shapping, organisasi tidak dipandang sebagai benda mati yang mekanistik, melainkan sebuah mahluk hidup yang organik. Ia hidup karena kemandirian, kemerdekaan, dan kreativitas berpikirnya.
E. Persepsi terhadap Hasil Akhir
Sikap kepemimpinan dalam perubahan tidak bisa lepas begitu saja dari persepsi terhadap kemungkinan hasil yang dapat dicapai. Pemimpin perlu mempertimbangkan berbagai resiko gagal dari sejumlah faktor, seperti :
Apakah sistem organisasi bersifat terbuka atau tertutup?
Semakin terbuka, berarti semakin banyak pihak yang terlibatuntuk mencampuri urusan internal. Sehingga keberhasilan perubahan semakin kecil.
Jenis perubahan tersebut bersifat publik atau yang menyangkut hidup orang banyak. Berskala besar atau kecil. Maka begitu ada masalah, reputasi cepat tergores, dan hasil yang dicapai mungkin hanya sebagian, begitu pula sebaliknya.
Apakah ada konflik kepentingan?
Semakin besar konflik antara pihak dalam dan pihak luar, dan antara berbagai kepentingan di dalam, maka kemungkinan pencapaian hasil semakin tidak bisa diduga.
Kebebasan dalam mengangkat orang, menyusun tim dam menyelesaikan tugas. Semakin besar kebeasan yang dimiliki berarti semakin mansiri dean semakin mudah mencapai hasil.
F. Cara-cara Memimpin
Gabungan antara cara memimpin (shapping) dengan persepsi eksekutif menghasilkan 6 jenis cara memimpin yaitu:
1. Tipe direktur
Sangat mungkin diterapkan pada oraganisasi tertutup yang eksekutifnya cenderung otonom dan memiliki kapasitas tak terbatas dalam melakukan perubahan. Direktur dapat menggerakkan seluruh sumber daya, memberikan arah, visi, melakukan implementasi dan mengendalikannya.
2. Tipe pelatih
Dalam keadaan terbuka pemimpin dapat melakukan pendekatan sharing yaitu sebagai motivator layaknya pelatih yang tidak turun ke lapangan. Tapi memberikan inspirasi dan motivasi.
3. Tipe navigator
Dalam situasi yang kurang terkendali, pemimpin harus berusaha menyesuaiakan organisasi dengan kondisi dan tuntutan lingkungan intern dan ekstern-nya.
4. Tipe penterjemah
Pemimpin memberikan tafsiran-tafsiran terhadap perubahan intern dan ekstern organisasi dan memberikan visi untuk berubah, untuk selanjutnya anggota tim menyelesaikan perubahan yang direncanakan.
5. Tipe pejabat sementara
Dalam keadaan lingkungan yang bergerak liar dan diwarnai konflik, eksekutif harus mengetahui posisi organisasi dan menggerakkan bawahannya agar bertindak lebih enterpreunerial dan inovatif.
6. Tipe perawat
Pemimpin hanya memberikan semangat pada para pengikutnya agar tetap bertahan karena kondisi organisasi dan lingkungan benar-benar berada dalam kondisi yang buruk.
Sikap kepemimpinan dalam perubahan tidak bisa lepas begitu saja dari persepsi pemimpin terhadap kemungkinan hasil yang dapat dicapai (outcome). Apalagi dalam suasana yang chaos terbuka atau bergejolak, segala kemungkinan harus diperhitungkan karena tidak semua keinginan pemimpin dapat dicapai dalam situasi yang demikian. Dan seorang pemimpin yang besar itu pemimpin yang sadar akan nama baiknya dan ia bekerja dengan kepercayaan. Semua itu diperoleh karena seorang pemimpin menuntut standar yang tinggi yang berawal dari nilai-nilai yang dianut. Dalam hal ini Re-code berarti membentuk kembali dengan menanamkan nilai-nilai dan standar yang tinggi.

G. Contoh Tokoh-tokoh Kepemimpinan
Ada beberapa tokoh pemimpin yang melakukan perubahan besar dalam kepemimpinanya, mereka adalah Muhammad Yunus, Sheikh Moohammad Bin Rasjid Al Makhtoum, Martin Luther King, dan Paul Otelini. Dibawah ini akan kami jabarkan secara ringkas bagaimana mereka memanfaatkan DNA perubahan yang mereka miliki.
Muhammad Yunus
Beliau adalah seorang bankir di Bangladesh, pakar ekonomi, pengembang sekaligus penggerak mikrokredit. Dari kunjunganya di Jobra tahun 1974 dilihatnya secara nyata mengenai kehidupan masyarakat yang miskin, keterbatasan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup karena penghasilan mereka yang sangat kecil. Dari peristiwa tersebut Yunus mengamati bahwa orang miskin tidak mempunyai jaminan sehingga akses menuju dunia perbankan sangat sulit (tertutup) bagi mereka. Mereka tidak dapat meminjam modal pada bank, solusi singkatnya mereka melakukan pinjaman pada rentenir atau tengkulak. Dengan begitu mereka dengan cepat dan mudah dapat melakukan pinjaman modal, namun konsekuensinya mereka harus membayar biaya tinggi dan harus menyerahkan produknya pada tengkulak dengan harga rendah. Hal ini mendorong Yunus untuk mendirikan GRAMEEN BANK yaitu bank untuk kaum papa yang memberikan pinjaman tanpa jaminan. Menurut Yunus, kemiskinan di ibaratkan pohon bonsai yang tumbuh kerdil karena akarnya hidup dalam wadah yang terbatas. Oleh karena itu Yunus berpikir agar dia dapat membantu kaum papa untuk menjadi seorang wirausaha dengan mendirikan Grameen Bank. Pada awalnya hal itu dianggap mustahil oleh pemerintah, namun pada kenyataannya pendirian Grameen Bank mendapat respon yang positif dari rakyat miskin. Bank dianggap dapat benar-benar membantu kehidupan kaum miskin dalam peminjaman modal untuk membuka usaha.
Paul Otellini
Pria berusia 55 tahun ini memperoleh gelar sarjana ekonomi di Universitas San Fransisco dan MBA di sebuah sekolah bisnis di California. Pada bulan Mei 2005 Otelini diangkat sebagai CEO, hal ini tentu merupakan sesuatu yang beda. Otelini bukanlah seorang insinyur, ia adalah akuntan yang sekolah bisnis. Maka mereka semua melihat bos baru itu dengan sedikit arogan dan memandang rendah. Yang lebih membuat para anak buah semakin merasa tidak nyaman adalah tindakan otellini yang tidak merangkul staff-staf lamanya dan ia justru merekrut orang-orang baru. Menurut majalah Business week, hanya dalam hitungan bulan ia sudah merekrut lebih dari 20.000 staff baru. Otellini terus melakukan perubahan terhadap perusahaan intel salah satunya adalah ia menggagas konsep “multi core processor” yang dikenal dengan nama paralelisme. Orang-orang yang bekerja di bidang rekayasa dan desain intel tentu merasa aneh dengan pandanganya, Tetapi lagi-lagi otellini tetap berjalan pada pendiriannya.
Otellini mengguncang setiap sudut perubahan, selain melakukan reorganisasi ia juga membuat perubahan besar dalam pengembangan produk. Bila pada masa lalu para insinyur mengerjakan chips yang semakin cepat dan setelah itu membiarkan tenaga-tenaga pemasaran menjual produk-produk itu, sekarang produk itu dikembangkan bersama-sama. Itulah awal dari sebuah proses, proses perubahan yang membawa intel ke dunia yang sama sekali baru.
Sheikh Mohammad Bin Rasjid Al Makhtoum
Menurutnya, pemimpin adalah seorang yang visioner. Pemimpin bukan cuma punya mata dan telinga melainkan juga mempunyai kekuasaan, anggaran, dan sumber daya lainya. Dengan kekuasaan dan penguasaan yang demikian maka tak ada yang mustahil untuk diubah oleh seorang pemimpin. Sheikh adalah pemimpin negara Dubai mulai tahun 1971. Yang ingin dilakukanya antara lain mengubah bentuk pemerintahan yang kental dengan warna dunia ketiga yang korup dan lamban menjadi semacam korporasi yang sehat, responsif, modern dan menyejahterakan para pemegang sahamnya yaitu rakyat UEA. Kemudian ia juga ingin menyulap padang pasir kering kerontang menjadi pusat belanja yang ramai.
Dalam kepemimpinan Sheikh, orang-orang direkrut secara profesional, lembaga-lembaga dimiliki oleh publik, jasa-jasa publik mengedepankan kepuasan pelanggan, teknologi informasi diterapkan di mana-mana, dengan cara itu tidak ada lagi tempat bagi pemalas yang tidak disiplin. Sekarang UEA dan Dubai telah benar-benar berubah dari padang pasir yang tandus, kurang air, dan tidak menarik sama sekali, menjadi kawasan investasi dan tujuan wisata yang diminati di seluruh dunia. Sheikh Muhammad melengkapi ucapan-ucapannya dengan langkah-langkah nyata. Impiannya hanya satu yaitu mengubah citra tanah Arab sebagai tanah yang penuh harapan dan kedamaian.
Martin Luther King
Adalah tokoh kulit hitam Amerika yang sangat dihormati. Martin memperjuangkan hak, keadilan, dan kebebasan bagi warga kulit hitam. Dia pertama kali merasakan adanya diskriminasi rasial ketika masih kecil dimana anak-anak kulit putih dilarang bermain dengan anak-anak kulit hitam. Akhirnya ia berpikir bahwa jika tidak ada yang merubah budaya ini maka orang kulit hitam selamanya akan menjadi budak.
Martin Luther King memimpin demo-demo menuntut adanya persamaan hak antara kulit hitam dan kulit putih. Menuntut adanya persamaan keadilan dan kebebasan bagi rasnya. Dia mengajak kaumnya agar bergerak dengan damai dalam menyampaikan tuntutan-tuntutan mereka sekalipun mereka diperlakukan tidak adil. Perubahan itu telah membawa perubahan yang besar bagi kehidupan orang kulit hitam dan disini jelas diperlihatkan bahwa untuk melakukan suatu perubahan tidak harus denan kekerasan. Perubahan bisa dilakukan dengan cara damai seperti yang dilakukanya.
Dengan mempelajari sejarah perjuangan Martin Luther King, maka tampak jelas darah DNA perubahan pada sikap-sikapnya. Dengan membaca sejarah kehidupannya yang lebih lengkap, maka dapat diketahui larutan OCEAN yang dimilikisebagai berikut:
O= Openness to experience (keterbukaan terhadap pengalaman hidup)
Martin terbuka matanya sejak kanak-kanak dan saat remaja di dalam bus kota diminta memberikan kursi kepada penumpang kulit putih, dan saat-saat menyaksikan peristiwa rasial lainnya. Pada saat orang-orang kulit hitam merasa menjadi budak adalah takdir yang tak bisa dilawan, Martin Luther King justru melihat belief itu tidak dapat diteruskan lagi.
C= Consciousness
Martin memperjuangkan gerakannya secara sistematis setelah mengalami diskriminasi rasial. Dia memimpin demo-demo penolakan, dia terus menghadapi teror tetapi tidak pernah berhenti berjuang. Martin menghancurkan nilai-nilai lama sekaligus membangun nilai-nilai baru. Dia mencalonkan diri sebagai presiden, menerima hadiah nobel, dan seterusnya.
A= Agreeableness
Martin bersikap tegas dan tahu siapa saja yang harus dilawan. Dia tidak membenci semua kaum kulit putih, bahkan ia berkawan dengan John F. Kennedy dan demo-demobesar damai yang ia canangkan banyak didukung kaum kulit putih. Maka sekalipun mereka diperlakukan tidak adil, diperas polisi dan didzalimi, dipenjarakan, dia memerintahkan tidak melakukan konfrontasi dan tidak pernah putus asa.
N= Neuroticism
Martin begitu lentur terhadap tekanan-tekanan. Ia merasakan tekanan-tekanan begitu keras, hidupnya menjadi lebih sulit setelah bergerak dan memimpin perubahan. Tetapi hal itu tidak membuat dirinya cemas, mudah marah. Modal dasarnya yang kalau disalurkan dalam bentuk aktivitas-aktivitas perubahan dengan nyali besar dan pidato-pidato yang berenergi.
Dari tokoh diatas kita pelajari bahwa seorang pemimpin yang baik dan mengerti arah perubahan, akan memimpin dengan contoh. Dia berada di depan berkorban demi kebaikan, dia mengajak yang lain berkorban tanpa harus merasa susah. Re-code The Leader harus dilakukan oleh para individu dengan menghancurkan belenggu-belenggu diri dan didukung oleh organisasi melaui proses pelatihan, pembentukan, penyediaan panggung sementara, mekanisme struktural, imbal jasa, dsb. Greatness seorang pemimpin dibentuk melalui empat unsur dalam leadership diamond yaitu Visi (vision), Keberanian (courageness), Realitas (reality), dan Etika (ethics). Seorang pemimpin pada dasarnya adalah seorang yang memiliki Change DNA yang siap melepaskan diri dari belenggu-belenggunya. Kouzes & Posner (2003) menemukan bahwa pada awalnya pemimpin terbentuk karena adanya keberanian yang mereka miliki. Seseorang di masa lalu diangkat sebagai pemimpin tak lain karena keberaniannya. Bagi mereka berdua dalam bahasa latin akar kata courage adalah core yang artinya hati. Karena bekerja dengan hati maka seseorang akan melaksanakan tugasnya sepenuh hati dan berani menerima tanggungjawab. Orang-orang seperti ini akan melakukan terobosan-terobosan baru (inisiatif) dan berani mengambil resiko (risk taking). Seorang pemimpin bekerja dalam alam yang realistis, bukan mitos, bukan pula gosip atau opini-opini. Seorang pemimpin harus tahu persis dan mampu membedakan yang mana yang merupakan ilusi orang perorangan dan mana yang fakta. Dalam leadership diamond, yang dimaksud etika adalah being sensitiv to people. Dengan kata lain pemimpin disini adalah pemimpin yang humanis. Dia tidak akan melakukan apapun yang dianggap dapat merugikan orang lain apakah itu bawahan, pemegang saham, komunitas di sekitar perusahaan, konsumen, warga masyarakat, dsb.




BAB III
KESIMPULAN

Dari pembahasan-pembahasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang pemimpin adalah seorang yang bertanggungjawab, seorang yang menimbulkan gerakan dengan kekuatan pengaruhnya. Seorang pemimpin bukanlah seorang yang manajer yang bisa diperoleh dari sekolah-sekolah, tetapi seorang yang diuji dalam pasar. Ia diuji oleh masyarakat, klien, perusahaan, dan diterima oleh pasar karena nilai-nilai yang mereka miliki dan manfaat yang mereka berikan.
Keterbukaan terhadap apa yang sehari-hari kita lihat, kita alami, kita pelajari, adalah modal yang penting bagi sebuah proses perubahan. Dan disiplin merupakan modal yang penting untuk perubahan. Pemimpin pada dasarnya adalah orang yang menciptakan perubahan, ia tidak terpaku pada pola yang telah dibuat oleh pendahulunya melainkan membuat jalan-jalan baru yang lebih baik dan lebih sesuai dengan kebutuhan. Dia bahkan menawarkan tujuan-tujuan baru untuk dicapai bersama-sama. Untuk menjadi seorang pemimpin kita harus menentukan kepemimpinan mana yang kita pilih agar efektif. Re-code the leader menekankan pentingnya memimpin dengan keberanian, realistis, berwawasan dan berestetika.
Pemimpin yang baik dan mengerti arah-arah perubahan akan memimpin dengan contoh dan bergerak dari apa yang dia lihat. Dia berada di depan, berkorban demi kebaikan, dia mengajak yang lain untuk berkoraban tanpa harus merasa susah. Sebab itulah yang membentuk dirinya sebagai seorang pemimpin. Sebagai seorang pemimpin yang baik, sebelum ia merubah lingkungannya maka ia harus memulai untuk merubah dirinya sendiri.








DAFTAR PUSTAKA

Kasali, Rhenald. 2007. Re-Code Change DNA. PT. Gramedia Pustaka Utama.
Jakarta.